
JAKARTA, Selasa 03 Februari 2026 – Pasca sukses melaksanakan tanam perdana di Banyuwangi pada akhir Desember 2025, PTPN I terus memacu perluasan areal tanaman kelapa di seluruh unit kerjanya. Langkah ini merupakan bagian dari proyeksi strategis menuju target 50 ribu hektare lahan kelapa pada tahun 2029 di seluruh wilayah kerja PTPN I.
Sebagai bagian dari rencana tersebut, PTPN I Regional 8 memulai penanaman kelapa di lahan seluas 104 hektare yang berlokasi di Kebun Mira (Minahasa dan Halmahera Utara), Sulawesi Utara, Jumat (30/1/2026).
Direktur Utama PTPN I, Teddy Yunirman Danas, hadir langsung dalam seremoni “Tanam Perdana Kelapa” Regional 8 tersebut. Turut hadir sejumlah pejabat penting, di antaranya Staf Khusus Menteri pada Program Hilirisasi Kelapa Kementerian PPN/Bappenas, Sukmo Harsono dan Rama Notowidigdo; Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara, Jacob Hendrik Pattipeilohy; serta Sekda Minahasa Utara, Novly Wowling. Acara ini dipandu langsung oleh Region Head PTPN I Regional 8, Misran, beserta jajaran.
Dalam sambutannya, Teddy Yunirman Danas menegaskan bahwa PTPN I memegang tanggung jawab teknis dan moral dalam menyukseskan program hilirisasi perkebunan yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, hilirisasi di sektor perkebunan merupakan pilar utama dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.
“PTPN I memiliki peran krusial dalam meningkatkan ekonomi petani kelapa dan nilai tambah komoditas ini melalui pengembangan industri hilir. Kelapa adalah komoditas strategis. Kami mengisi celah pasar agar tidak terjadi instabilitas pangan, mengingat tingginya ketergantungan masyarakat namun di sisi lain lahan petani mulai beralih fungsi,” ujar Teddy.
Teddy menambahkan bahwa dari target 50 ribu hektare hingga tahun 2029, sekitar 70 persen populasi tanaman akan berfokus di wilayah Regional 8 yang mencakup sembilan provinsi.
“Industri kelapa ini, ke depan bukan sekadar penyedia bahan mentah. Kami akan menciptakan industri terpadu dengan produk hilir yang kompetitif. Kami berencana membangun pabrik utama dan industri pengolahan produk derivatnya guna memberikan dampak ekonomi nyata bagi negara,” imbuh Teddy.
Baca juga berita: PTPN I Regional 2 Pulihkan Ekosistem dan Sosial Warga Pasca Longsor Cisarua
Di sela-sela kegiatan tanam perdana tersebut, PTPN I Regional 8 juga menunjukkan komitmen kepeduliannya terhadap masyarakat sekitar. Sebagai bentuk rasa syukur atas dimulainya proyek strategis ini, perusahaan memberikan santunan kepada 100 orang anak yatim dan kaum dhuafa yang berasal dari lingkungan sekitar wilayah kebun.
Penyerahan santunan dilakukan secara simbolis oleh jajaran direksi dan pejabat yang hadir. Langkah ini diharapkan dapat mempererat hubungan harmonis antara perusahaan dan masyarakat, serta memastikan bahwa kehadiran investasi PTPN I memberikan manfaat langsung bagi kesejahteraan warga lokal.
Dukungan penuh juga datang dari pemerintah daerah dan aparat penegak hukum. Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara, Jacob Hendrik Pattipeilohy, menekankan pentingnya sinergi lintas sektoral untuk memastikan program strategis nasional ini berjalan sesuai koridor hukum.
“Kejaksaan hadir untuk memastikan program ketahanan pangan ini berjalan baik, terutama dari aspek legalitas. Optimalisasi potensi kelapa di Sulawesi Utara harus didorong sebagai komoditas unggulan,” kata Jacob Hendrik.
Di sisi operasional, Region Head PTPN I Regional 8, Misran, menjelaskan bahwa penanaman 104 hektare di Marinsow, Kabupaten Minahasa Utara ini adalah langkah awal dari target 1.800 hektare pada tahun 2026 khusus di wilayah Regional 8.
“Kami sedang menyiapkan lahan hingga mencapai target total 35.000 hektare untuk regional ini. Varietas yang kami gunakan adalah bibit unggul dengan produktivitas tinggi guna mendukung ekosistem hilirisasi industri kelapa PTPN I,” jelas Misran.
Secara nasional, progres penyiapan lahan terus dilaporkan ke Kantor Pusat PTPN I. Pada awal Januari, Regional 1 (Sumatera Utara) melaporkan kesiapan 300 hektare lahan di Kebun Helvetia dan Bulu Cina, Deli Serdang, yang dijadwalkan tanam perdana pada Februari 2026. Regional lain juga melaporkan kesiapan lahan minimal 1.000 hektare untuk tahap pertama.
Dengan proyeksi masif ini, PTPN I optimistis akan menjadi produsen kelapa dan produk turunan terbesar di Indonesia. Selain memperkuat kedaulatan pangan, industri ini diproyeksikan menjadi sumber pendapatan perusahaan yang menjanjikan.
“Saat kami merancang program ini setahun lalu, sejumlah perusahaan swasta produsen santan dan tepung kelapa sudah menyatakan minat untuk bekerja sama. Ini membuktikan bahwa ekosistem industri kelapa terintegrasi yang kami bangun sangat prospektif secara bisnis,” pungkas Teddy. (*)
Baca Berita Menarik Lainnya di Google News