Prabowo Dorong Perluasan Beasiswa, Targetkan Penerima Jauh Lebih Besar

Berita

JAKARTA, 16 JANUARI 2026 – Presiden Prabowo Subianto memberikan perhatian serius pada perluasan akses beasiswa pendidikan tinggi nasional.

Dalam Taklimat Presiden Republik Indonesia bersama Rektor dan Pimpinan Perguruan Tinggi Negeri Tahun 2026 di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (15/1/2026), Presiden menginstruksikan penghitungan ulang agar jumlah penerima beasiswa dapat diperbesar secara signifikan.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengungkapkan, saat ini jumlah mahasiswa yang menempuh pendidikan tinggi di Indonesia mencapai sekitar 9,9 juta orang, namun penerima beasiswa baru sekitar 1,1 juta mahasiswa. Angka tersebut dinilai masih terlalu kecil dibandingkan kebutuhan nasional.

Menanggapi kondisi itu, Presiden Prabowo meminta Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) bersama Kementerian Sekretariat Negara untuk merumuskan ulang kebijakan beasiswa agar menjangkau lebih banyak mahasiswa.

“Bapak Presiden memberikan arahan agar dilakukan penghitungan dan formulasi ulang untuk memperbesar sebanyak-banyaknya jumlah penerima beasiswa,” ujar Prasetyo Hadi kepada awak media usai kegiatan.

Taklimat tersebut juga mendapat apresiasi dari para rektor dan pimpinan perguruan tinggi. Mereka bahkan mengusulkan agar dialog langsung dengan Presiden dapat dilakukan secara rutin sebagai forum strategis penguatan pendidikan tinggi nasional.

Selain perluasan jumlah penerima, Presiden Prabowo menekankan agar alokasi beasiswa LPDP lebih difokuskan pada bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM). Fokus ini dinilai krusial untuk mengejar ketertinggalan Indonesia dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Presiden berharap alokasi beasiswa untuk STEM bisa mencapai lebih dari 80 persen, karena kita memang perlu memperkuat penguasaan sains dan teknologi,” kata Prasetyo.

Kebijakan beasiswa juga diarahkan untuk menjawab kekurangan tenaga kesehatan nasional. Presiden Prabowo mendorong peningkatan daya tampung mahasiswa kedokteran, termasuk dokter spesialis, serta membuka peluang pembentukan fakultas kedokteran baru.

Tak hanya dokter umum dan spesialis, perhatian juga diberikan pada pendidikan dokter gigi, farmasi, dan teknologi kesehatan, seiring pesatnya perkembangan alat kesehatan berbasis teknologi.

Pemerintah saat ini masih melakukan identifikasi lokasi dan kebutuhan untuk pengembangan fakultas-fakultas baru tersebut.

Namun, arah kebijakan sudah ditegaskan: beasiswa menjadi instrumen utama negara dalam memperluas akses pendidikan tinggi sekaligus menyiapkan SDM unggul untuk masa depan Indonesia.

Foto : BPMI Setpres