
SURABAYA, 1 FEBRUARI 2026 – Pemerintah Provinsi Jawa Timur menegaskan komitmennya dalam menjaga iklim investasi yang kondusif guna mendorong pertumbuhan Penanaman Modal Asing (PMA), khususnya dari Jepang, agar semakin berkualitas, berkelanjutan, dan berdampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat.
Komitmen tersebut disampaikan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa saat menghadiri East Java Investment Government–Japanese Business Networking Reception di Surabaya, Jumat (30/1/026).
Dalam forum tersebut, Khofifah mengapresiasi kepercayaan investor Jepang yang secara konsisten menjadikan Jawa Timur sebagai salah satu destinasi utama investasi di Indonesia.
Hingga kini, tercatat sebanyak 212 perusahaan PMA asal Jepang beroperasi di Jawa Timur dengan total nilai investasi mencapai lebih dari 5 miliar dolar Amerika Serikat. Jepang pun tercatat sebagai penyumbang realisasi PMA terbesar keempat di Jawa Timur.
“Kami mengapresiasi setinggi-tingginya kepercayaan investor Jepang yang secara konsisten memilih Jawa Timur sebagai tujuan investasi utama,” ujar Khofifah.
Menurutnya, investasi Jepang di Jawa Timur umumnya bersifat jangka panjang dan berbasis teknologi tinggi. Karakter ini dinilai menjadi penopang penting dalam penguatan struktur industri Jawa Timur, terutama di sektor logam, otomotif, kayu, serta industri makanan dan minuman.
“Investasi PMA Jepang terbukti menciptakan lapangan kerja, meningkatkan nilai tambah, sekaligus mendorong tumbuhnya industri pendukung dan UMKM lokal,” jelasnya.
Khofifah menambahkan, tingginya minat investor Jepang tidak lepas dari komitmen Pemprov Jatim dalam memberikan pendampingan menyeluruh sejak tahap pra-investasi hingga operasional.
Reformasi perizinan terus diperkuat melalui sistem digital Online Single Submission (OSS) yang terintegrasi dengan Jatim Online Single Submission (JOSS).
Selain itu, Pemprov Jatim juga menjamin keamanan berusaha, menyediakan akses informasi investasi melalui platform POINT Jatim (Potential Opportunity and Investment Jawa Timur), serta layanan after care investasi melalui program KLIK – Mobile Investment Clinic.
“Melalui berbagai upaya ini, kami memastikan investasi yang masuk ke Jawa Timur tidak hanya besar secara nilai, tetapi juga berkualitas dan berkelanjutan,” tegasnya.
Sepanjang tahun 2025, realisasi investasi Jawa Timur tercatat mencapai Rp147,7 triliun, menempatkan provinsi ini dalam tiga besar nasional setelah Jawa Barat dan DKI Jakarta. Pada Triwulan IV 2025, investasi Jawa Timur tumbuh signifikan sebesar 31,6 persen secara kuartalan dan 11,4 persen secara tahunan.
Meski demikian, Khofifah mengakui masih terdapat tantangan di lapangan. Karena itu, ia mendorong penguatan komunikasi intensif dan berkelanjutan antara Pemprov Jatim, Konsulat Jepang, serta pimpinan perusahaan Jepang yang beroperasi di Jawa Timur.
Ke depan, Pemprov Jatim akan terus mengembangkan sektor-sektor unggulan yang dinilai potensial bagi investor Jepang, seperti manufaktur dan otomotif, elektronik dan industri berbasis teknologi, petrokimia dan industri hilir, makanan dan minuman serta agroindustri, energi dan industri hijau, hingga infrastruktur dan kawasan industri.
“Pemerintah Provinsi Jawa Timur siap menjadi mitra strategis dan fasilitator bagi setiap rencana investasi yang saling menguntungkan,” pungkas Khofifah.
Sementara itu, Konsul Jenderal Jepang di Surabaya Dr. Takonai Susumu menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang terjalin antara Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Konsulat Jepang, khususnya dalam penguatan sektor ekonomi dan pembenahan iklim investasi.
“Kami sangat mengapresiasi dukungan Pemprov Jawa Timur. Keberhasilan ini tidak lepas dari komitmen pemerintah daerah,” ujarnya.
Ia juga menyambut positif ajakan Gubernur Khofifah untuk meningkatkan intensitas dialog, terutama dalam membahas tantangan investasi seperti perbedaan budaya bisnis, aspek administrasi, serta regulasi hukum.
Pada akhir acara, Gubernur Khofifah bersama Konsul Jenderal Jepang menyerahkan penghargaan kepada delapan perusahaan Jepang yang telah beroperasi lebih dari 50 tahun di Jawa Timur. Di antaranya PT Kutai Timber Indonesia, PT Mermaid Textile Industry Indonesia dan PT Hisamitsu Pharma Indonesia.
Selanjutnya PT Pakarti Riken Indonesia, PT Easterntex, PT Otsuka Indonesia, PT Ajinomoto Indonesia, serta PT Meiji Indonesia Pharmaceutical Industries.