
SURABAYA, 16 JANUARI 2026 – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menekankan pentingnya penerapan creative financing yang tidak menambah beban masyarakat, serta perubahan pola pikir birokrasi untuk menghadirkan layanan publik yang berkualitas.
Hal itu disampaikannya dalam Jatim Retreat 2026 di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Jawa Timur, Kamis (15/1/2026).
Kegiatan yang diikuti 135 peserta dari unsur birokrasi, BUMD, RSUD, hingga penyelenggara layanan publik tersebut dinilai menjadi momentum strategis untuk menyatukan arah kebijakan dan memperkuat komitmen bersama di tengah tantangan fiskal yang kian dinamis.
“Forum ini menjadi ruang untuk memastikan seluruh elemen pemerintahan di Jawa Timur bergerak dalam satu frekuensi, terutama menghadapi tantangan efisiensi belanja dan penyesuaian transfer ke daerah,” ujar Khofifah.
Ia menyoroti dampak Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025 tentang efisiensi belanja APBN dan APBD yang menuntut penguatan tata kelola anggaran, optimalisasi sumber pembiayaan kreatif, serta peningkatan kualitas layanan publik yang terukur.
Menurut Khofifah, konsep creative financing bukan sekadar alternatif teknis pembiayaan, melainkan strategi tata kelola untuk mengombinasikan APBD dengan sumber pembiayaan non-anggaran secara transparan dan akuntabel.
“Creative financing harus dilakukan tanpa membebani masyarakat, dengan memaksimalkan aset daerah dan membuka ruang investasi yang mendorong ekonomi, termasuk UMKM,” tegasnya.
Ia mencontohkan optimalisasi aset lahan milik Pemprov Jatim yang tersebar di berbagai daerah melalui skema kerja sama operasi (KSO), serta potensi sektor perikanan, termasuk pengembangan Grand Parent Stock (GPS) ikan untuk mendukung program nasional.
Selain pembiayaan, Khofifah juga menekankan pentingnya perubahan mindset birokrasi, dari penghabis anggaran menjadi pencipta nilai, dari orientasi output menuju outcome, serta dari rutinitas menuju pemenuhan kebutuhan nyata masyarakat.
“Pelayanan publik harus cepat, efektif, dan efisien. Jika perizinan bisa diselesaikan lebih cepat, maka harus segera diterbitkan. Fokus kita adalah melayani masyarakat, bukan membebani mereka,” ujarnya.
Dalam Jatim Retreat 2026, hadir pula Guru Besar ITS Surabaya Prof. Mohammad Nuh sebagai narasumber. Ia menekankan bahwa kekuatan kepemimpinan tidak hanya ditentukan oleh pemimpin, tetapi juga oleh kualitas para pengikutnya.
“Dalam organisasi, followers itu 80 persen dan leader hanya 20 persen. Kepemimpinan akan kuat jika followership juga kuat,” jelas Prof. Nuh.
Dari sisi keuangan, Prof. Nuh menegaskan pentingnya mencari sumber pendanaan di luar APBD serta mengubah orientasi BUMD dari sekadar mengejar pendapatan menjadi berorientasi keuntungan.
“BUMD harus beralih dari revenue oriented ke profit oriented. Yang dicari bukan hanya pendapatan, tetapi keuntungan agar APBD semakin kuat,” pungkasnya.