Misi Dagang Jatim–Jateng 2026 Tembus Rp3,15 Triliun

Berita

SEMARANG, 30 JANUARI 2026 – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memimpin Misi Dagang dan Investasi perdana Jawa Timur–Jawa Tengah tahun 2026 yang berhasil mencatatkan komitmen transaksi lebih dari Rp3,15 triliun.

Kegiatan ini digelar di Semarang, Kamis (29/1/2026), sebagai upaya memperluas pasar dan memperkuat integrasi ekonomi antarwilayah.

Khofifah menegaskan, misi dagang ini menjadi instrumen strategis untuk mempertemukan kebutuhan dan keunggulan masing-masing daerah melalui skema business matching yang saling melengkapi.

“Dari proses business matching terlihat kebutuhan yang bersifat komplementer. Jawa Timur membutuhkan produk dari Jawa Tengah, demikian pula sebaliknya. Hingga sore hari nilai transaksi telah menembus Rp3,15 triliun,” ujar Khofifah.

Total transaksi tersebut terdiri dari Jatim Jual sebesar Rp2,76 triliun, Jatim Beli Rp296,86 miliar, serta Jatim Investasi Rp96 miliar, yang seluruhnya mencerminkan pola perdagangan dua arah dan penguatan rantai pasok domestik.

Dalam skema penjualan, Jawa Timur memasok berbagai komoditas unggulan seperti produk peternakan, pangan, perikanan, gula, hasil perkebunan, industri pengolahan, hingga tekstil.

Sementara itu, Jawa Timur membeli sejumlah komoditas dari Jawa Tengah, antara lain kayu bulat, tembakau, cengkeh, tepung tapioka, gula merah tebu, hingga produk UMKM pangan.

Khofifah menekankan, misi dagang ini merupakan agenda perdana Pemprov Jatim di tahun 2026 sekaligus kelanjutan strategi penguatan perdagangan dalam negeri dan substitusi impor, terutama untuk pemenuhan bahan baku industri.

“Misi dagang menjadi sarana efektif mempertemukan pelaku usaha penjual dan pembeli, baik melalui skema government to business maupun business to business, agar kerja sama dan transaksi bisa terbangun lebih optimal,” jelasnya.

Sepuluh transaksi terbesar dalam misi dagang ini didominasi sektor peternakan dengan nilai mencapai Rp1,13 triliun per tahun, disusul kerja sama gula kristal putih senilai Rp300 miliar, industri hasil tembakau Rp192 miliar, serta sektor pangan dan perikanan.

Khofifah menyebut, pola perdagangan dua arah ini memperkuat integrasi pasar domestik sekaligus menjaga ketahanan ekonomi daerah. Hingga Triwulan III-2025, perekonomian Jawa Timur tumbuh 5,22 persen, lebih tinggi dari rata-rata nasional.

Sejak 2019 hingga Januari 2026, Pemprov Jatim telah menggelar 49 misi dagang domestik di 29 provinsi dengan total komitmen transaksi Rp30,52 triliun, serta enam misi dagang luar negeri dengan potensi transaksi Rp5,89 triliun.

“Keberhasilan ini membuktikan produk Jawa Timur memiliki daya saing tinggi. Sinergi dengan Jawa Tengah akan terus kami perkuat agar tumbuh dan sejahtera bersama,” pungkas Khofifah.