Seni Menata Bayang-Bayang

Berita

SURABAYA, 23 JANUARI 2026 – Seni Menata Bayang-Bayang

Oleh: Hadipras
Ketua Dewan Pakar PWI Jatim

Dalam bincang-bincang ringan warung kopi, ada sedikit debat soal stabilitas ekonomi. Maklum awam pasti sedang harap-harap cemas tentang situasi ekonomi, bingung karena beda yang dibahas di layar TV dan podcast oleh para ahli dan yang mewakili otoritas Pemerintah.

Yang masyarakat tahu dan merasakan adalah bahwa kehidupan sehari-hari rasanya makin berat. Bisnis kecil-kecilan naik turun, lapangan kerja sulit, jualan juga jalan sekedarnya karena daya beli masyarakat masih rendah.

Yang menarik dalam bincang warung kopi itu adalah adanya anomali fenomena ekonomi di bulan Januari 2026, di mana Rupiah limbung mendekati Rp17.000 sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru merayakan rekor tertingginya. Lalu timbul pertanyaan apakah stabilitas ekonomi yang dijamin Pemerintah melalui pidato dan pernyataan pejabat yang berwenang itu riil, atau ada semacam was-was pelaku ekonomi besar yang melahirkan psikologi tertentu sehingga menyebabkan anomali?

Secara konsep ekonomi bisa dikatakan panggung ekonomi makro yang ditunjukkan oleh angka-angka statistik bukan sekedar potret pasif dari realitas, tetap sebagian (mungkin bisa 50%) adalah faktor psikologis.

Adanya anomali pasar dimana fenomena Rupiah dan IHSG yang bergerak berlawanan arah adalah sebuah bentuk “disonansi kognitif” yang akut. Secara teori, pelemahan mata uang yang drastis biasanya menjadi sinyal alarm bagi ketidakstabilan sistemik. Namun, otoritas moneter dengan cerdik menonjolkan narasi “IHSG All Time High” dan “Cadangan Devisa Naik” sebagai penawar racun.

Strategi ini nampaknya merupakan upaya psikologis untuk mencegah munculnya ‘Animal Spirits’, yaitu ketakutan irasional yang bisa memicu pelarian modal besar-besaran (capital outflow).

Di balik tirai statistik tersebut, terdapat tiga anomali yang saling berkelindan: sektor riil melambat akibat ekspor yang lesu ke mitra dagang utama, serta defisit neraca perdagangan akibat tingginya biaya impor energi dan bahan baku.

Secara alami, kebocoran dolar ini seharusnya menguras cadangan devisa, namun laporan Bank Indonesia justru menunjukkan kenaikan angka cadangan devisa (Cadev) hingga mencapai kisaran US$ 156,5 miliar. Angka “hijau” inilah yang menjadi fondasi bagi kokohnya IHSG, meski fondasi tersebut dibangun di atas tanah yang retak.

Cadev adalah semacam “oksigen buatan” dan instrumen stabilitas, tetapi poin krusial yang harus digarisbawahi adalah bahwa cadangan devisa saat ini telah mengalami pergeseran paradigma. Cadev tidak lagi mencerminkan surplus perdagangan, melainkan bertransformasi menjadi instrumen aktif stabilitas ekonomi makro.

Kenaikan Cadev ditengah lesunya ekspor bukanlah hasil dari produktivitas ekonomi bangsa, melainkan dari “oksigen buatan” berupa penerbitan surat utang internasional (Global Bond) dan penarikan pinjaman luar negeri. Berarti utang Pemerintah yang makin membengkak, ada sebagian yang disimpan dan dikelola Bank Sentral sebagai cadangan devisa.

Dalam konteks ini, statistik cadangan devisa berperan sebagai kosmetik ekonomi yang menutupi kerutan defisit anggaran. Pemerintah sengaja menambah utang baru antara lain demi menjaga angka Cadev tetap tinggi di atas kertas. Tujuannya jelas untuk memberikan rasa aman (walau lebih menjadi narasi semu) bagi pelaku pasar internasional.

Di mata investor global, angka Cadev yang besar adalah indikator safety net yang menjamin kemampuan negara untuk membayar kewajiban jangka pendek, sehingga mereka tetap percaya diri untuk memutar uang di pasar saham Indonesia.

Kaitan erat Cadev dan gairah IHSG dalam periode ini bersifat simbiosis psikologis. Dengan menjaga angka Cadev tetap tinggi melalui utang, Bank Indonesia memiliki “peluru” untuk melakukan intervensi kurs secara terukur tanpa harus terburu-buru menaikkan suku bunga secara agresif. Suku bunga yang relatif stabil dan laporan devisa yang terlihat kuat menciptakan ilusi ketahanan, memicu aksi beli bersih (net buy) oleh investor asing pada saham-saham blue chip.

Namun yang patut dipahami publik adalah bahwa IHSG didorong oleh ‘kepercayaan yang dipelihara’ melalui manajemen opini statistik, bukan oleh kekuatan sektor riil yang sesungguhnya, kurang menggambarkan fundamental ekonomi yang kuat. Ditengah permainan persepsi ini dan kemungkinan gelembung ekonomi, investor dituntut untuk bersikap pragmatis namun waspada.

Langkah antisipasi yang perlu diambil meliputi:
Pertama, diversifikasi aset berbasis dolar. Mengingat Rupiah yang lemah adalah realitas fundamental sementara IHSG adalah hasil persepsi, mengalihkan sebagian portofolio ke aset hard currency atau emas tetap menjadi langkah pengaman yang bijak.

Kedua, fokus pada emiten berorientasi ekspor. Di saat mata uang lemah, pilihlah perusahaan yang memiliki pendapatan dolar namun beban biaya rupiah. Mereka adalah entitas yang mendapatkan keuntungan riil, bukan sekadar “terbawa arus” optimisme bursa.

Ketiga, waspadai titik jenuh utang. Perhatikan rasio beban bunga utang pemerintah dalam APBN. Jika porsi pembayaran utang mulai menggerus belanja produktif secara ekstrem, “gelembung kepercayaan” ini bisa pecah kapan saja.

Zaman makin modern, teknologi informasi makin maju pesat, demikian pula dengan manajemen politik kekuasaan yang didalamnya ada manajemen fiskal dan moneter. Mengatur statistik terhadap indikator makro adalah sebuah “permainan bayang-bayang.”

Pemerintah memanfaatkan self-fulfilling prophecy, dengan menciptakan persepsi bahwa ekonomi stabil, mereka berharap stabilitas tersebut benar-benar akan terwujud. Namun, pada akhirnya, instrumen stabilitas yang dipaksakan hanya akan bertahan selama pasar masih bersedia mempercayai naskah sandiwara tersebut.

Pemerintah dan politik kekuasaan masih harus tetap berjuang keras untuk membenahi fundamental ekonomi, memacu agar sektor riil berjalan baik, dan sektor ekonomi yang melibatkan rakyat banyak (ekonomi kerakyatan) bisa tumbuh dengan baik.

Sebagai penutup, patutlah kita merenungkan sebuah pesan bijak: “Statistik adalah kompas yang berguna, namun jangan pernah bingung membedakan antara indahnya peta dengan kerasnya jalanan yang sebenarnya.”

Kepercayaan bisa dibangun dengan angka, namun kesejahteraan hanya bisa dirawat dengan kejujuran fundamental dan produktivitas yang nyata.