
PASURUAN, 5 JANUARI 2026 – Jawa Timur menegaskan posisinya sebagai provinsi penghasil jeruk terbesar di Indonesia, sekaligus motor penggerak penguatan konsumsi buah lokal dan pengurangan ketergantungan impor.
Di kawasan dataran tinggi yang berada di ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut itu, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meninjau langsung kebun jeruk siam sekaligus memetik buah bersama petani.
Ia menyebut, jeruk siam Tutur memiliki keunggulan dari sisi rasa, ukuran, hingga kualitas, sehingga layak menjadi andalan konsumsi nasional.
“Jeruk siam di Tutur ini unggul. Buahnya tumbuh lebat, ukurannya besar, kulitnya berwarna oranye cerah, dan rasanya manis sekali,” ujar Khofifah saat mengunjungi sentra jeruk siam di Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, Sabtu (3/1/2026).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, produksi jeruk Jawa Timur pada triwulan III 2025 mencapai 959.231,31 ton, atau berkontribusi 36,22 persen terhadap total produksi nasional pada periode yang sama. Angka tersebut menempatkan Jawa Timur sebagai produsen jeruk tertinggi secara nasional.
Menurut Khofifah, capaian ini merupakan kekuatan strategis Jawa Timur dalam memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus mendorong kemandirian ekonomi petani hortikultura.
“Produksi jeruk Jawa Timur adalah yang tertinggi di Indonesia. Potensi besar ini harus dijaga, salah satunya dengan meningkatkan konsumsi jeruk lokal dan secara bertahap mengurangi ketergantungan pada jeruk impor,” tegasnya.
Khofifah juga menilai perkembangan budidaya jeruk di kawasan Tutur semakin pesat dibandingkan kunjungan sebelumnya. Kondisi alam pegunungan yang sejuk dan subur dinilai sangat ideal untuk pengembangan hortikultura, khususnya jeruk siam.
Ia menegaskan, kualitas jeruk lokal Jawa Timur tidak kalah dibandingkan produk impor, baik dari segi kesegaran, cita rasa, maupun kandungan gizi. Selain itu, membeli produk lokal dinilai mampu menggerakkan ekonomi petani dan perekonomian daerah.
“Kalau masyarakat mengonsumsi jeruk lokal, manfaatnya berlipat. Produk yang dikonsumsi lebih segar dan sehat, sementara petani kita ikut merasakan dampak ekonomi secara langsung,” katanya.
Dalam kunjungan tersebut, Gubernur Khofifah juga berdialog dengan para petani mengenai tantangan produksi, distribusi, hingga peluang pengembangan nilai tambah komoditas jeruk ke depan.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur, lanjutnya, berkomitmen terus mendampingi petani melalui peningkatan kualitas produksi dan penguatan akses pasar.
“Jeruk Jawa Timur harus semakin berdaya saing. Pemerintah provinsi akan terus hadir mendukung petani agar potensi besar ini benar-benar menjadi penggerak ekonomi daerah,” pungkas Khofifah.